KOmpas hari ini mengangkat topik pada halaman pertama dengan judul Lonjakan Penduduk Menjadi Ancaman. Jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah 240 juta dengan tingkat pertumbuhan 1,34%. Jumlah penduduk ini menjadi ancaman karena kualitasnya yang rendah. Keberadaan penduduk itu mengonsumsi 27 juta ton beras per tahun yang dihitung dengan tingkat konsumsi pangan 120 kg beras per kapita per tahun. Sedang konsumsi energinya adalah 61 juta kilo liter per tahun. IPM Indonesia adalah peringkat 124 dari 187 negara. Itu masih di bawah Filipina yang 112 dan Thailand yang 103. Rendahnya kualitas Indonesia tercermin dari tenaga kerja Indonesia di luar negeri yang didominasi tenaga kerja sektor informal.
Menurut UNDP IPM Indonesia rendah karena belum meratanya pelayanan publik. Pendidikan masih merupakan satu satunya alat untuk lepas dari kemiskinan. Padalah lamanya manusia Indonesia bersekolah hanya 7,72 tahun artinya setingkat lulusan SD.
Berikut ini merupakan angka angka yang mencerminkan masih rendahnya kualitas manusia Indonesia:
1. Jumlah Penduduk INdonesia 2010 adalah 237.641.326 dengan 57.5% berada di Jawa (luas 6.8%)
2. Rata rata lama sekolah tahun 2009 adalah 7,72 tahun
3. Angka harapan hidup tahun 2009 adalah 69,21 tahun dengan terendah 61,8 tahun di NTT dan tertinggi 73,16 tahun di DIY.
4. RAsio dokter adalah 1:10.000 dibanding idealnya 1:2.500
5. Pencaharian di bidang pertanian secara luas adalah 40% dan berkualitas rendah.
6. Pengeluaran per kapita Rp631.500 dengan 51,43% untuk makanan
7. Angka kematian bayi 2007 adalah 34 per 1.000 kelahiran hidup, Angka kematian balita adalah 44 per 1.000 kh dan angka kematian ibu adalah 228 per 100.000 kh
IPM Indonesia masih rendah dan ini juga mempengaruhi kepercayaan diri bangsa di forum nasional. Peningkatan IPM memang perlu dan untuk sementara tampaknya pembatasan kelahiran adalah hal yang sangat mendesak.
Senin, 21 November 2011
Ancaman Jumlah Penduduk
Rabu, 16 November 2011
Naik Saja Tidak Cukup!
Itu judul tulisan Haryono Suyono, Mantan Menko Kesra dan Taskin zaman Order Baru di Kompas 16 November 2011. Tulisan ini menarik untuk disimak karena figure Haryono Suyono yang fenomenal karena sukses dalam mengelola program keluarga berencana. Pada tulisan ini beliau mengulas tentang progres kenaikan indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia.
IPM Indonesia tumbuh dengan konsisten namun sayangnya kurang cepat. Pada tahun 1980 IPM Indonesia adalah 0,423 dan naik menjadi 0,481 di tahun 1990. Sepuluh tahun kemudian IMP Indonesia menjadi 0,543. Pada tahun 2005 adalah 0,572 dan 2011 adalah 0,617. Namun demikian rupanya dari pengukuran peringkat posisi Indonesia itu tidaklah menggembirakan. Peringkat pada tahun 2009 adalah 111, tahun 2010 naik sedikit ke 108 namun pada tahun 2011 melorot ke 124. Beberapa negara yang tampaknya kurang beruntung rupanya mempunyai IPM yang lebih tinggi daripada Indonesia yaitu: Palestina, Uzbekistan, Botswana, Suriah, Namibia, Honduras, Kiribati dan Afrika Selatan. Mereka berada pada peringkat 114 sampai 123. Vietnam masih berada di bawah Indonesia.
Untuk meningkatkan IPM secara lebih signifikan rupanya beberapa parameter perlu mendapatkan perhatian. Haryono mengidentifikasi parameter usia harapan hidup, pendidikan dan kenaikan tingkat pendapatan. Semua parameter tersebut sangat terkait dengan keluarga berencana. Menutup tulisannya beliau mengusulkan untuk meningkatkan pendidikan di usia sampai dengan 25 tahun, program Pos Pemberdayaan Keluarga dan pengelolaan statistik. Beliau memang pakar di bidang statistik dan keluarga berencana.
Indeks pembangunan manusia (IPM) menjadi ukuran untuk kemajuan suatu negara. Indeks pembangunan manusia menurut UNDP adalah dengan memperhatikan 3 parameter yaitu: Indeks Harapan Hidup, Indeks Pendidikan dan Indeks Pendapatan. Sebelum tahun 2010 UNDP merumuskan dengan 3 parameter juga yaitu: Indeks Harapan Hidup, Indeks Pendidikan dan GDP. Beberapa organisasi lainnya memperhatikan juga Indeks Kependudukan.
Senin, 08 Agustus 2011
Rabu, 22 Juni 2011
Going to Tegal
I woke up at 03.30 and prepared for a trip. At 04.40 I did dawn prayer. Sonhaji and Sakdi came to pick me up. We picked Budiyo up from his home at Manyaran. We went to Tegal together to assess a field office and a field unit. We had our breakfast at a stand in Batang. In that place we and the other members united. They were Bena, Sarwono, Gunawa. Eliana, Bambang Priyotomo, Wartono, Kastari, Hendro Ismu, Niken, Eni Kus, Riyanto, Achmadi and Hendro Prasojo.
At 09.30 we arrived at Pemali Comal Managenent Office. Mr Novianto welcomed and joined us. At 10.00 we were at Slawi field office where we were welcomed by contestants and their supervisor
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Minggu, 31 Mei 2009
Kamis, 30 April 2009
Flu Babi
Beberapa hari ini berita di media massa adalah berita flu babi. Flu ini diberitakan dicurigai telah membinasakan lebih dari seratus orang di Mexico, beberapa orang di Amerika dan Canada. Pemerintah Mexico telah meliburkan sekolah, dimaksudkan untuk mengurangi kemungkinan penyebarannya. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan travel warning ke Mexico.
Flu Babi adalah flu yang dibangkitkan oleh virus dengan kode H1N1. Virus ini sebenarnya biasa saja namun ketika diberi sifat virus flu manusia H3N2 & H1N1 dan virus flu unggas H5N2 maka menjadi mematikan. Mudahnya, virus ini adalah berstruktur virus flu babi namun bermaterial virus flu manusia dan flu unggas sehingga mempunyai sifat baru dan ternyata mematikan.
Dikabarkan walaupun mematikan namun intensitasnya tidak sehebat flu burung H5N1 hanya kecepatan sebarnya saja yang perlu diwaspadai. Menteri Kesehatan Fadilah Supari mengatakan agar masyarakat tak perlu panik namun harus tetap waspada.
Virus ini mempunyai tingkat penyebaran yang tinggi karena dapat ditularkan dari manusia ke manusia sehingga berbeda dengan flu burung yang ditularkan dari unggas ke manusia. Karena penularannya sudah dari manusia ke manusia maka kabarnya penamaannya sebagai flu babi menjadi tidak kontekstual dan akan mengganggu industri peternakan babi. Menteri Kesehantan dan beberapa pejabat kesehatan dunia mengusulkan untuk memberi nama Flu Mexico, menunjuk tempat mulai penyebarannya.
Sabtu, 28 Maret 2009
Tanggul Situ Gintung Jebol
Hari ini 28/03/09 headline Kompas menulis Petaka Dini Hari yang mengabarkan bahwa pintu dan tanggul di sebelahnya pada Situ Gintung jebol. Peristiwa berlangsung pada Jumat dini hari pukul 05.00. Jebolnya tanggul telah menimbulkan banjir bandang di hilir dan menyebabkan 91 orang meninggal dunia (data hari ini malam). Presiden SBY dan Wakil Presiden JK telah meninjau ke lokasi dan berusaha menentramkan hati para korban hidup.
Situ Gintung terletak di Kelurahan Cirendeu Ciputat Kota Tangerang Selatan Banten pada ketinggian 31 Ha. Luas genangan ketika dibangun oleh Belanda tahun 1933 adalah 44 ha dan sekarang tinggal 21,4 Ha. Situ ini berada pada DAS Pesanggrahan dan dapat menampung 2,1 juta m3 air. Pada awalnya situ ini dipakai untuk pertanian namun sekarang dipakai untuk rekreasi.
Jebolnya tanggul suatu waduk (nama generik dari waduk, embung, situ dll) tanpa melalui suatu proses pemberian peringatan dini menandakan bahwa pengelolaan waduk itu sudah buruk. Suatu pengelolaan yang bagus akan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat sekaligus menjamin umur waduk sesuai rencana. Lebih dari itu pada pengelolaan yang bagus tentu berjalan prosedur pemantauan kondisi waduk yang dilakukan dengan memantau secara rutin: rembesan waduk, tinggi muka air dalam tubuh bendungan dan deformasi bendungan. Salah satu dari objek pantau itu menunjukkan besaran yang abnormal maka pengelola waduk harus segera memberikan peringatan kepada pejabat yang bertanggung jawab dan masyarakat sekitarnya.
Waduk Mulur di Kabupaten Sukoharjo perlu diwaspadai. Masalahnya kaki waduk itu telah dipotong untuk perluasan jalan raya. Pemotongan itu tentu telah mengurangi kekuatan waduk walaupun suatu struktur beton telah dipasang untuk menggantikannya.


