(Tulisan ini adalah salinan dari tulisan saya pada milis alumni sman magelang 1974 berkenaan dengan gempa Klaten Bantul 2006)
Senin 29/05 saya ngantor di Solo. Kolega di Semarang memberitahu bahwa hari ini rombongan Kantor Pusat di Semarang akan meninjau bencana di Kecamatan Wedi Kabupaten Klaten sambil memberikan sumbangan dan mengirim satu unit alat berat (excavator). Setelah berkoordinasi maka saya dan 2 orang subordinates pergi juga ke sana, mapag. Sampai lewat dhuhur ternyata rombongan belum juga muncul di Kecamatan Wedi. Kami lalu menyerahkan sumbangan dari kantor kami ke kantor kecamatan dan kemudian pergi untuk melihat medan.
Kecamatan Wedi dikabarkan saat itu sebagai yang terparah di Kab Klaten tetapi menurut laporan beberapa subordinates Kecamatan Gantiwarno adalah yang terparah. Di Kecamatan Wedi terlihat banyak rumah di pinggir jalan ambruk. Begitu juga sepanjang perjalanan kami melalui Kecamatan Jogonalan dan Kecamatan Prambanan. Saya rasa Kecamatan Prambanan adalah yang paling parah karena lebih banyak rumah yang ambruk. Saya membawa kamera tetapi untuk merekam keadaan saat itu saya tidak tega dan juga tidal berani, takut kepada masyarakat /penduduk setempat.
Penduduk setempat di Kecamatan Prambanan banyak yang berkerumun di tepi Jalan Nasional Solo Jogja memungut sumbangan dari para dermawan yang lewat. Karenanya lalu lintas di sana berjalan melambat. Di Prambanan kegiatan juga melambat atau boleh dikatakan lumpuh, terlihat tidak ada toko yang buka. Rencana kami untuk makan siang disana tidak terlaksana karena tidak ada warung yang buka.
Sepanjang pulang ke Solo saya berpikir bahwa penderitaan masyarakat akibat gempa dimulai dari ambruknya rumah rumah mereka. Karena rumah mereka ambruk maka hampir semua milik mereka yang mendukung kehidupan normal mereka terkubur. Mereka tidak bisa masak, tidak bisa melindungi diri dari hujan/ udara luar, tidak bisa berganti pakaian, tidak bisa mandi dllnya yang semuanya akan bermuara pada penderitaan fisik dan mental.
Kenapa rumah mereka ambruk? Karena dalam pembangunannya ternyata kaidah kaidah teknik sipil tidak dipakai. Kaidah teknik sipil menyatakan suatu struktur mesti stabil, kuat dan kaku (cukup kaku tetapi tidak terlalu kaku). Rumah rumah itu ternyata tidak stabil sehingga ambruk digoyang gempa yang belum seberapa besar. Rumah rumah itu tidak memakai kolom yang terikat satu dengan lainnya dengan memakai slof atau ringbalk. Rumah rumah itu dibangun tanpa memperhatikan beban mendatar. Rumah rumah itu berdiri tanpa IMB.
Saya juga melihat banyak prasarana yang dibangun oleh pemerintah seperti: jembatan, bendungan, bendung dan oleh swasta seperti gedung bertingkat bahkan oleh masyarakat seperti rumah dan ruko tetap kokoh berdiri. Mereka mungkin hanya mengalami rekahan di struktur sekunder atau di sambungan antara struktur sekunder dengan utama. Rekahan rekahan itu justru diperlukan sebagai pelepas energi seperti mimisen pada orang hipertensi atau penyoknya bemper pada mobil yang tabrakan.
Apakah mahal jika kaidah teknik sipil diindahkan? Saya rasa tidak. Saya melihat si empunya banyak yang mampu yang untuk melengkapi rumahnya dengan kolom dsb.nya adalah tidak sulit. Di peraturan daerahpun sudah ada yaitu peraturan yang terkait dengan penerbitan IMB. Seandainya orang Bantul dan Klaten mau mengurus IMB sebelum membangun atau menempati rumahnya, saya rasa akibat gempa kemarin tidak akan sehebat ini.
Senin, 03 Maret 2008
Gempa Klaten Bantul-2
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar