(Tulisan ini adalah salinan dari tulisan saya pada milis alumni sman magelang 1974 berkenaan dengan gempa Klaten Bantul 2006)
Datang tanpa pesan pergi meninggalkan kesan, itulah kata kata salah satu stasiun televisi swasta mengomentari gempa yang baru saja terjadi di Bantul dan Klaten.
Pagi itu, Sabtu 27/05/06, di Semarang anakku mengatakan telah terjadi gempa yang cukup besar di Semarang. Ternyata kemudian simboknya anak anak (boss rumah) yang sedang nglencer di Surabaya juga kirim pesan pendek bahwa telah terjadi gempa di Bantul dan memakan korban. Teletext di televisi juga mengabarkan bahwa gempa dengan besar 5,9 skala Richter telah terjadi dengan episentrum di dekat Bantul. Bisa dipahami jika di Semarang saja terasa cukup besar apalagi di Bantul, tentu luar biasa. Boss juga instruksi agar dicek kondisi seorang kerabat di Bantul. Beberapa saat kemudian adik adik saya yang di Jakarta dan sekitarnya juga menyampaikan kabar dan instruksi yang sama. Instruksi boss dan para juragan di Jakarta adalah instruksi yang harus segera dilaksanakan.
Saya berusaha menelpon kerabat saya itu namun ternyata selalu gagal. Saya mencoba menelpon kolega dan subordinates yang tinggal di Jogja ternyata juga gagal. Karena itu saya kirim pesan pendek kepada mereka dengan harapan pesan segera dapat diterima ketika mereka hidupkan telpon genggam mereka.
Sementara itu, para subordinates di Solo dan sekitarnya melapor bahwa kondisi prasarana dalam tanggung jawab kami aman. Namun demikian rumah seorang kolega mereka di Kecamatan Cawas Kab Klaten ambruk. Seperti biasa, saya beri arahan untuk tindakan segera (bagi mereka mungkin membosankan) dan sebagai subordinate juga saya melapor ke supervisor. Habis itu saya agak demam juga kalau kalau ada arahan darinya yang merepotkan tetapi ternyata sampai esok harinya tenang tenang saja.
Sore hari saya dapat jawaban dari kerabat saya bahwa dia dan keluarganya selamat, alhamdulillah, namun demikian rumahnya porak poranda. Karena saya tidak dapat konfirmasi lebih lanjut (masih susah berkomunikasi) saya menerjemahkan porak poranda sebagai rumahnya ambruk. Saya forward pesan pendek dari kerabat tersebut kepada para juragan di Jakarta dan mereka sependapat dengan terjemahan saya. Bantuan segera disiapkan.
Ahad siang 28/05(hari H+1) bantuan terkumpul. Setelah belanja seperlunya sore hari saya ke Bantul nunut adik saya yang berdomisili di Salaman Kab Magelang. Dalam perjalanan adik saya bercerita bahwa pada hari H dia ke Jogja dan menjumpai banyak orang ketakutan. Mereka tidur dan memarkir mobilnya di lapangan dan di pinggir pinggir jalan. Tetapi saat saya kesana keadaan seperti itu sudah tidak ada lagi. Mungkin karena hujan sedang turun maka mereka kembali masuk ke rumahnya.
Walau sebagian besar utuh, beberapa bangunan di Jogja runtuh sebagian. Pojok beteng juga runtuh. Makin ke selatan frekuensi menjumpai keruntuhan semakin tinggi. Sepanjang jalan ke Bantul dari Jalan Lingkar Selatan Jogja saya menjumpai banyak rumah yang runtuh bahkan ambruk. Perkerasan jalan patah atau mletot. Jembatan masih berdiri kokoh tetapi oprit (entrance) nya sedikit amblas.
Di sepanjang jalan juga dijumpai papan tanda menerima bantuan. Papan itu hanya diterangi dengan sinar sentir atau ban yang dibakar karena listrik PLN padam atau mungkin dipadamkan. Masih dapat dilihat penduduk yang tidur di luar rumah (rumahnya sudah atau hampir ambruk) di dalam tenda atau gubug darurat. Beberapa orang hilir mudik atau duduk bergerombol di antaranya berjaga.
Rumah kerabat ada di sebuah RT di Desa Melikan ternyata masih utuh. Menurut penduduk setempat di RT itu tidak ada rumah yang runtuh atau ambruk. Lebih lanjut mereka mengatakan bahwa kerabat kami saat itu tidak ada di rumah karena mengungsi ke Gunung Kidul. Mereka mengungsi karena takut ada gempa lagi dan juga karena listrik padam. Saya dan adik saya segera meninggalkan Bantul. Bantuan diserahkan di suatu kampung dalam perjalanan pulang. Adik saya terus pulang ke Magelang setelah mengantar saya ke Terminal Bus Giwangan. Terminal saat itu gelap dan sepi. Saya minta adik saya untuk ke Bantul lagi kalau kerabat sudah pulang dari pengungsian. Saya terus ke Solo karena esoknya mesti masuk kantor. Saya kirim pesan kepada para juragan di Jakarta MISSION ABORTED.
Senin, 03 Maret 2008
Gempa Klaten Bantul-1
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar