Hari ini 31 Mei 2008 adalah Peringatan Hari Tanpa Tembakau. Gubernur Jawa Tengah melalui Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah telah menginstruksikan pada hari itu tak boleh ada orang merokok di semua kantor pemerintah. Kebetulan hari itu adalah Sabtu sehingga sangat mungkin instruksi tersebut sukses.
World No Tobacco Day dirayakan setiap tanggal 31 Mei menyusul resolusi Sidang Umum Kesehatan Dunia (World Health Assembly) Nomor 42.19 tahun 1988. Sejak itu maka negara negara di dunia yang menjadi anggotanya, termasuk Indonesia, merayakanya setiap 31 Mei.
Negara maju telah sedemikian maju dalam mengimplementasikan konsep no tobacco. Pemerintah Canada telah melarang merokok di seluruh kabin pesawat penerbangan dalam negerinya sejak itu. Pada 1990 semua kantor pemerintah di sana dinyatakan bebas rokok.
Indonesia, seperti halnya negara terbelakang lainnya, tidak melaksanakan konsep no tobacco ini dengan sungguh sungguh (tepatnya tidak meratifikasi WHO Framework Convention on Tobacco Control - WHO FTCT). Kartono Mohamad, pada Kompas hari ini, menyatakan bahwa Pemerintah Indonesia dalam melindungi rakyatnya dari dampak tembakau berada pada tingkat yang terburuk, sejajar dengan Guinea Bissau, Malawi dan Eritrea. Bahkan Pemerintah Indonesia memfungsikan cukai tembakau bukan sebagai perlindungan terhadap rakyatnya namun sebagai bagian dari pendapatan negara. Mengutip suatu penelitian, Kartono menyatakan bahwa jumlah cukai yang didapat Pemerintah Indonesia dari tembakau adalah Rp 16.5 triliun. Jika dibandingkan dengan belanja rakyat untuk mengobati penyakit akibat tembakau yang besarnya Rp 127.7 triliun rasanya pendapatan negara itu tidak layak dan tidak pantas.
Tembakau membahayakan konsumennya, mengganggu masyarakat di sekitarnya dan membuat citra Indonesia sebagai negara terbelakang semakin kuat. Jika kita ingin bangsa kita maju, tembakau harus hilang dari Indonesia.
Sabtu, 31 Mei 2008
Hari Tanpa Tembakau Dunia (World No Tobacco Day)
Minggu, 27 April 2008
Genangan Pasang Semarang
(Tulisan ini adalah salinan dari tulisan saya pada milis sdajateng dan milis part_a_wismp 15 April 2008)
Suara Merdeka Selasa 15 April 2008 memuat berita genangan pasang (Jawa: rob) pada halaman pertama. Paras muka air laut menaik kemudian melalui Kali Asin air laut melimpah ke daratan terdekat. Sebelas kelurahan di kecamatan kecamatan Semarang Utara, Semarang Tengah dan Semarang Timur tergenang air laut. Koran itu menampilkan juga gambar kesibukan penduduk setempat yang menyelamatkan barang barangnya. Koran itu sudah berkali kali menampilkan fenomena genangan pasang di Semarang.
Fenomena genangan pasang di bagian utara Kota Semarang mulai muncul pada akhir dekade 80an. Ketika itu Pelabuhan Tanjung Emas selesai ditingkatkan. Sedikit demi sedikit genangan air laut meluas. Tahu tahu, Jalan Ronggowarsito dan Mpu Tantular sudah tergenang air pasang sepanjang tahun. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulanginya dan yang paling populer adalah meninggikan paras muka tanah. Tetapi hal itu nampaknya tidak lestari karena paras muka tanah terus mengalami penurunan (terjadi land subsidence). Orang menjadi ingin tahu penyebab penurunan ini.
Penyebab penurunan ini belum jelas benar tetapi paling tidak ada 2 hipotesis. Yang pertama adalah bahwa kegiatan pelabuhan telah meningkatkan kegiatan ekonomi di sekitarnya. Peningkatan kegiatan ekonomi ini telah mendorong ekploitasi air tanah secara berlebihan di daerah berdekatan dengan pelabuhan. Lapisan lempung sebagai penyimpan air tanah terbanyak dengan sendirinya menyusut. Inilah yang menyebabkan paras muka tanah selalu turun. Hipotesis ini nampaknya banyak dipercaya.
Hipotesis yang ke dua menyatakan bahwa kegiatan pemeliharaan kolam pelabuhan yang berupa pengerukan sedimen telah membuat keseimbangan tanah terganggu sehingga tanah (di bawah permukaan) di sekitar pelabuhan yang masih plastis bergerak secara horisontal ke pelabuhan untuk membuat keseimbangan baru. Pergerakan ini terjadi terus menerus sejalan dengan kegiatan pengerukan pelabuhan. Akibatnya, paras muka tanah di sekitar pelabuhan turun. Hipotesis ini terdukung oleh fakta bahwa laju penurunan semakin tinggi ketika mendekat ke pelabuhan.
Sampai saat ini belum ada pernyataan resmi tentang penyebab dari penurunan itu. Sementara itu muncul fenomena yang baru, yaitu pemanasan global dan perubahan iklim. Salah satu wujud dari fenomena ini adalah mencairnya es di kutub utara, naiknya suhu air laut sehingga paras muka air laut naik. Fenomena ini membuat persoalan genangan pasang Kota Semarang bagian utara menjadi semakin memburuk. Nampaknya konsep yang sahih untuk penanganan genangan ini belum pernah terwujud.
Beberapa konsep ditawarkan antara lain dengan menaikan paras muka tanah (dengan pengurukan), konversi ruang alami menjadi ruang artifisial (polder) dan kombinasi keduanya. Namun saya kurang sependapat dengan cara itu karena terkesan kita jump to the conclusion. Kita sudah pada kesimpulan bahwa ruang tersebut harus diselamatkan at any cost.
Saya cenderung untuk dilakukan kajian ruang terlebih dahulu. Pada kajian ruang tersebut dilakukan analisis sehingga sampai pada kesimpulan ruang tersebut sebaiknya diselamatkan atau sebaliknya, ditinggalkan. Kita akan punya angka angka, misalnya: jumlah penduduk, luas lahan, PDRB, ongkos investasi ruang, ongkos operasi dan pemeliharaan ruang, tingkat produktivitas ruang, dsb nya. Selain itu juga kita akan punya kajian dari aspek sosial dan budaya, dsb nya. Dari kajian inilah nanti DPRD Kota akan dapat memilih menyelamatkan atau meninggalkan. Pilihan DPRD inilah yang saya anggap sebagai dasar untuk pembuatan konsep yang sahih.
Sabtu, 05 April 2008
Peringatan HAD 2008
(Tulisan ini adalah salinan dari tulisan saya pada milis sdajateng 23 Maret 2008)
Hari Air Dunia (World Day for Water - WDW) mula mula diusulkan dalamAgenda 21 Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan (UNCED) 1992 di Rio de Janeiro, Brazil. Peringatan HAD dimulai tahun 1993 dan kemudian gaungnya mendunia sampai saat ini. PBB menetapkan 22 Maret sebagai HAD dan, melalui perangkatnya, memakai hari itu untuk menggalakkan dan mengkoordinasikan kegiatan kegiatan berkenaan dengan persoalan air.
HAD 2008 dicanangkan oleh PBB dengan tema Sanitasi dan sekaligus menandai tahun 2008 sebagai Tahun Internasional Sanitasi (TIS). Koordinasi kegiatan TIS dilakukan oleh perangkat PBB yaitu Departemen PBB untuk urusan Ekonomi dan Sosial (UNDESA). Sanitasi ini menjadi tema dan sekaligus isu penting dunia karena PBB memandang bahwa target untuk mengusahakan jumlah orang yang tidak memiliki akses ke sanitasi dasar (2.6 M orang) menjadi separuhnyapada 2015 sebagaimana tercantum dalam Millenium Developmen Goals (MDGs) dikawatirkan tidak tercapai. Pada tahun itu diperkirakan 2,1M orang masih akan tidak mendapatkan akses kepada sanitasi dasar.
Sanitasi
Berbicara sanitasi maka kita bicara tentang air minum dan air limbah. Ini terlihat dari Logo TIS yang menggambarkan 2 unsur tersebut. PBB ingin menegaskan lagi bahwa penyediaan air minum dan pembuangan air limbah merupakan investment yang sangat layak karena setiap dollar yang ditanamkan dalam bidang ini akan berbuah 8 dollar di kemudian hari. Secara kualitatif gambaran keuntungan adalah untukair minum adalah tersedianya waktu/ kesempatan bagi masyarakat untukmelakukan pekerjaan yang lebih produktif karena tidak perlu waktu untuk mendapatkan air dan berkurangnya secara berarti kemungkinanuntuk sakit perut akibat air (tipes dan muntaber). Untuk air limbah adalah mirip yaitu berkurangnya secara berarti penyakit menular (TB dan lainnya).
Sanitasi di Indonesia merupakan wewenang dari pemerintah kabupaten kota. Pemerintah (Ditjen Cipta Karya Dep PU dan Ditjen Pencegahan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Permukiman Depkes) dan pemerintah provinsi (Jawa Tengah: Dinas Permukiman dan Tataruang dan Dinas Kesehatan) mempunyai kewajiban untuk memberikan penunjangan terhadap pelaksanaan wewenang tersebut. Penunjangan ini dilaksanakan di daerah dengan satuan satuan kerjanya di daerah. Peringatan HADNasional 20085 yang dikoordinasi oleh Departemen PU tidak terlepas dari peranan ini.
HAD Nasional 2008
Peringatan HAD Nasional 2008 bertema Sanitasi Lestarikan Air dan Lingkungan. Panitianya dibentuk oleh Menteri Pekerjaan Umum. Ada 6 bidang kegiatan utama yaitu Kampanye Peduli Air dan PenggalakanTahun Sanitasi Internasional, Lokakarya dan Seminar, Gerakan Masyarakat dan Apresiasi HAD, Pameran, Penggalakan HAD daerah, Puncak Acara dan 2 bidang kegiatan penunjang yaitu: Dokumentasi dan Humas dan Sekretariat Pelaksana. Dalam bidang kegiatan Penggalakan HAD rupanya Jawa Tengah hanya akan mendapatkan surat dari Menteri PU untuk mendukung kegiatan HAD ini dan tentunya akan diminta laporannya. Provinsi provinsi lain yaitu: Jambi, Bali dan Kalimantan akan ditinjau oleh Panitia Peringatan HAD Nasional 2008.
Jawa Tengah
Gaung HAD 2008 tidak begitu keras di Dinas PSDA Jawa Tengah. Mungkin karena sanitasi dianggap lebih merupakan persoalan 2 dinas tersebut.Mungkin juga karena Dinas PSDA Jawa Tengah masih kaget dengan banjir yang luar biasa baru baru ini . Mungkin juga karena tak punya waktu, sedang ancang ancang untuk mengahadapi kekeringan tahun ini. Atau mungkin ketiga tiganya. Namun kelihatannya persoalan sanitasi mesti juga menjadi bagian dari agenda kegiatan Dinas PSDA Jawa Tengah. Mengapa?
Sanitasi dasar yang berupa air minum dan pembuangan limbah dekat sekali dengan urusan yang ditangani Dinas PSDA Jawa Tengah. Air minum memerlukan air baku untuk pengembangannya, air limbah memerlukan daya tampung badan air untuk pembuangannya. Penyediaan air baku maupun penyediaan titik pembuangan limbah di badan air merupakan wewenang Dinas PSDA Jawa Tengah. Semua itu kelihatannya belum terkonsep secara mapan. Akan tidak terjawab jika misalnya datang Pemerintah Kota Semarang minta air baku untuk pengembangan Semarang bagian selatan atau datang Pemerintah Kota Solo minta titik pembuangan limbah di Sungai Bengawan Solo.
Air minum
Tingkat cakupan air minum (perpipaan) Jawa Tengah 2007, sesuai informasi Ir Purwandi Sukiato Panambang (Kasi Air Bersih Dinas Kimtaru Jawa Tengah) adalah 33,2% di perkotaan dan 8% di perdesaan. Mengikuti MDGs maka tahun 2015 cakupan perkotaan adalah 80% dan perdesaan adalah 54%. Berdasarkan pengamatan saya, pengembangan air minum di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah, terkendala oleh ketersediaan air baku. Selama ini kemajuan produksi air minum sangat rendah. Karena itu yang dapat dilakukan oleh para pengelola adalah menggarap sektor distribusinya yaitu dengan cara mengurangi kebocoran. Kebocoran rata rata diperkirakan adalah 35% dan dengan usaha sangat keras hanya dapat diturunkan ke 15%, karena hampir tidak mungkin menurunkan kebocoran di bawah itu.
Peringatan HAD tentu mengingatkan kita akan tingkat kemajuan pengelolaan SDA yang telah dicapai sampai saat ini. Angka angka itu menjelaskan kalau kita berjalan sangat lambat.
Peringatan HAD 2007 Jawa Tengah
(Tulisan ini adalah salinan dari tulisan saya pada milis sdajateng 6 April 2007)
'Padang Alase, Ilang Banyune, Teka Banjire' memenangkan lomba spanduk dalam rangka Peringatan Hari Air Dunia (HAD) 2007 tingkat Jawa Tengah. Walau belum menjawab seluruh tema karena tidak memuat unsur 'ajakan' tetapi kata katanya begitu kuat mengingatkan kita semua akan adanya kelangkaan air akibat salah urus alam. Ucapan selamat disampaikan kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo atas kemenangan ini. Untuk menandainya maka sebuah trophy telah diberikan kepada Kepala Balainya oleh Kepala Dinas PSDA Jawa Tengah pada puncak peringatan HAD 2007 tingkat Jawa Tengah yang berlangsung di Kebumen Kamis 05 April 2007.
Pada kesempatan yang sama juga telah diselenggarakan diskusi dengan Subtema 'Langkah Nyata Mengatasi Kekurangan Air'. Ada 8 panelis menyampaikan laporannya. Mereka adalah para kepala BBWS yang beroperasi di Jawa Tengah (5 bbws, 1 diantaranya diwakili oleh stafnya), Kabal PSDA Probolo, Kadis SDA Tamben Kab Kebumen dan mantan Pemimpin SNVT Irigasi Andalan Jawa Tengah. Sayang, tata suara dan tata cahaya tidak mendukung sehingga pesan yang disampaikan oleh para panelis hanya sayup sayup sampai. Penyampaian juga tidak efektif karena tidak semua panelis membagikan paper/handoutnya dan tidak ada kesempatan bagi aundience untuk menyampaikan klarifikasinya.
Walau gelap dan lamat lamat saya berusaha menyimak. Penilaian saya mantan Pemimpin SNVT IAJT, Kabal PSDA Probolo dan staf BBWS Cimanuk Cisanggarung telah menjawab sub tema yang ditetapkan sedangkan lainnya lebih fokus kepada memperkenalkan dirinya. Mantan Pemimpin SNVT IAJT mengambil bidang pengawetan yaitu melaporkan pembangunan Intake Kedungsamak yang outcomenya dapat menghemat air Waduk Wadaslintang. Kabal PSDA Probolo mengambil bidang pelestarian yaitu melaporkan penggerakan institusi dan masyarakat untuk pelestarian das. sedang staf BBWS Cimanuk Cisanggarung mengambil bidang penghematan yaitu melaporkan penyiapan trainers untuk penerapan Metode System of Rice Intensification (SRI). Ucapan selamat disampaikan untuk mantan Pemimpin SNVT IAJT yang karenanya mendapatkan penghargaan inovasi teknologi. Penghargaan yang sama mestinya disampaikan juga untuk Kabal PSDA Probolo sebagai pelopor gerakan konservasi. Penghargaan lainnya mesti disediakan untuk BBWS Cimanuk Cisanggarung jika gerakan penghematan air irigasi sukses.
Indonesia termasuk di dalam 10 negara terkaya air di dunia. Menurut Ir Imam Anshori (Direktur Bina PSDA Dep PU), presipitasi rata rata per kapita per tahun adalah 2500 m3. Bagaimana dengan Jawa Tengah? rasanya tidak terlalu jauh karena untuk Bengawan Solo saja (daerah paling timur Jawa Tengah) adalah 2000 m3/ kapita/ tahun. Angka ini masih masuk dalam rentang 10 negara terkaya air di dunia. Kita memang belum dapat mengurus anugerah Tuhan ini dengan baik sehingga terjadi banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau, cocok dengan kata kata BBWS Bengawan Solo: 'Padang Alase, Ilang Banyune, Teka Banjire.
Senin, 03 Maret 2008
Gempa Klaten Bantul-3
(Tulisan ini adalah salinan dari tulisan saya pada milis alumni sman magelang 1974 berkenaan dengan gempa Klaten Bantul 2006)
In the last week berita di televisi banyak menyiarkan berita tentang penanganan korban akibat gempa sabtu 27/05/06. Pemberitaannya riuh rendah tetapi yang banyak didukani oleh masyarakat jurnalis adalah kinerja pemerintah/ birokrat/ PNS. Rasanya berita tidak akan menarik tanpa blaming the government. Kita menjadi terbiasa dengan ungkapan: pemerintah lamban, tidak tanggap, tidak peka, prosedur berbelit – belit, terlalu birokratis, dsb. Itu yang terjadi sekarang ini. Yang terjadi berikutnya, yaitu jika penanganan korban akibat gempa ini sudah lewat adalah pemerintah akan didukani lagi lewat kata kata: bantuan dikorupsi, diselewengkan, tidak tepat sasaran, distribusi tidak merata dsb.
‘Birokratis’ dan ‘diselewengkan’ tampaknya merupakan dua kutub dari kinerja birokrasi. Untuk menjamin bantuan tidak diselewengkan maka prosedur harus ditempuh secara lengkap (birokratis), sehingga butuh waktu yang lama. Sebaliknya untuk mempercepat penanganan korban maka prosedur mesti dipangkas atau bahkan ditiadakan tetapi ini rawan penyelewengan. Biasanya yang ditempuh adalah trade off dari 2 kutub tersebut. Tetapi di zaman yang pancaroba ini birokrat nampaknya tidak mau ambil resiko. Mereka umumnya pada umur yang hampir pensiun dan tidak ingin masa pensiun mereka diganggu dengan urusan sebelum pensiun. Mereka tentu akan menerapkan prosedur lengkap (dan kaku).
Mereka akan membaca prosedur dengan cermat dan menerapkannya dengan cermat pula. Kalau seseorang birokrat diminta membagi bantuan kepada 100 orang korban dalam suatu kampung maka hanya kepada mereka bantuan itu akan diberikan walaupun di kampung tsb ternyata ada 100 orang korban lainnya. Jika dari 100 yang tertulis ternyata hanya 20 orang yang ada maka bantuan hanya akan diberikan kepada 20 orang itu sedang lainnya dikembalikan lagi walaupun tahu ada orang lainnya yang memerlukan. Semua bantuan harus dapat dipertanggungjawabkan, tercatat, harus ada bukti serah terima, harus ada bukti bahwa si penerima shahih, dsb.
Beberapa birokrat mungkin ada yang tidak kuat hati karena iba atau desakan masyarakat setempat sehingga, misalnya, membagi rata bantuan ke semua korban atau menyerahkan sisa bantuan kepada korban yang lain yang belum menerima. Namun hal ini sebenarnya adalah bagai memasang tali gantungan untuk diri sendiri karena di depan sana telah menghadang BPKP, BPK bahkan jaksa dan hakim. Di sana juga telah menghadang jurnalis yang siap memberitakan 'penyelewengan' oleh birokrat itu.
Penanganan korban bencana mestinya tidak melibatkan birokrat secara langsung. Mereka cukup mengolah data dan informasi saja. Penanganan langsung dilakukan oleh tentara dengan prosedur tentara sebagaimana mereka menangani perang atau operasi keamanan. Dengan cara ini rasanya keluhan masyarakat bisa diminimalkan.
Gempa Klaten Bantul-2
(Tulisan ini adalah salinan dari tulisan saya pada milis alumni sman magelang 1974 berkenaan dengan gempa Klaten Bantul 2006)
Senin 29/05 saya ngantor di Solo. Kolega di Semarang memberitahu bahwa hari ini rombongan Kantor Pusat di Semarang akan meninjau bencana di Kecamatan Wedi Kabupaten Klaten sambil memberikan sumbangan dan mengirim satu unit alat berat (excavator). Setelah berkoordinasi maka saya dan 2 orang subordinates pergi juga ke sana, mapag. Sampai lewat dhuhur ternyata rombongan belum juga muncul di Kecamatan Wedi. Kami lalu menyerahkan sumbangan dari kantor kami ke kantor kecamatan dan kemudian pergi untuk melihat medan.
Kecamatan Wedi dikabarkan saat itu sebagai yang terparah di Kab Klaten tetapi menurut laporan beberapa subordinates Kecamatan Gantiwarno adalah yang terparah. Di Kecamatan Wedi terlihat banyak rumah di pinggir jalan ambruk. Begitu juga sepanjang perjalanan kami melalui Kecamatan Jogonalan dan Kecamatan Prambanan. Saya rasa Kecamatan Prambanan adalah yang paling parah karena lebih banyak rumah yang ambruk. Saya membawa kamera tetapi untuk merekam keadaan saat itu saya tidak tega dan juga tidal berani, takut kepada masyarakat /penduduk setempat.
Penduduk setempat di Kecamatan Prambanan banyak yang berkerumun di tepi Jalan Nasional Solo Jogja memungut sumbangan dari para dermawan yang lewat. Karenanya lalu lintas di sana berjalan melambat. Di Prambanan kegiatan juga melambat atau boleh dikatakan lumpuh, terlihat tidak ada toko yang buka. Rencana kami untuk makan siang disana tidak terlaksana karena tidak ada warung yang buka.
Sepanjang pulang ke Solo saya berpikir bahwa penderitaan masyarakat akibat gempa dimulai dari ambruknya rumah rumah mereka. Karena rumah mereka ambruk maka hampir semua milik mereka yang mendukung kehidupan normal mereka terkubur. Mereka tidak bisa masak, tidak bisa melindungi diri dari hujan/ udara luar, tidak bisa berganti pakaian, tidak bisa mandi dllnya yang semuanya akan bermuara pada penderitaan fisik dan mental.
Kenapa rumah mereka ambruk? Karena dalam pembangunannya ternyata kaidah kaidah teknik sipil tidak dipakai. Kaidah teknik sipil menyatakan suatu struktur mesti stabil, kuat dan kaku (cukup kaku tetapi tidak terlalu kaku). Rumah rumah itu ternyata tidak stabil sehingga ambruk digoyang gempa yang belum seberapa besar. Rumah rumah itu tidak memakai kolom yang terikat satu dengan lainnya dengan memakai slof atau ringbalk. Rumah rumah itu dibangun tanpa memperhatikan beban mendatar. Rumah rumah itu berdiri tanpa IMB.
Saya juga melihat banyak prasarana yang dibangun oleh pemerintah seperti: jembatan, bendungan, bendung dan oleh swasta seperti gedung bertingkat bahkan oleh masyarakat seperti rumah dan ruko tetap kokoh berdiri. Mereka mungkin hanya mengalami rekahan di struktur sekunder atau di sambungan antara struktur sekunder dengan utama. Rekahan rekahan itu justru diperlukan sebagai pelepas energi seperti mimisen pada orang hipertensi atau penyoknya bemper pada mobil yang tabrakan.
Apakah mahal jika kaidah teknik sipil diindahkan? Saya rasa tidak. Saya melihat si empunya banyak yang mampu yang untuk melengkapi rumahnya dengan kolom dsb.nya adalah tidak sulit. Di peraturan daerahpun sudah ada yaitu peraturan yang terkait dengan penerbitan IMB. Seandainya orang Bantul dan Klaten mau mengurus IMB sebelum membangun atau menempati rumahnya, saya rasa akibat gempa kemarin tidak akan sehebat ini.
Gempa Klaten Bantul-1
(Tulisan ini adalah salinan dari tulisan saya pada milis alumni sman magelang 1974 berkenaan dengan gempa Klaten Bantul 2006)
Datang tanpa pesan pergi meninggalkan kesan, itulah kata kata salah satu stasiun televisi swasta mengomentari gempa yang baru saja terjadi di Bantul dan Klaten.
Pagi itu, Sabtu 27/05/06, di Semarang anakku mengatakan telah terjadi gempa yang cukup besar di Semarang. Ternyata kemudian simboknya anak anak (boss rumah) yang sedang nglencer di Surabaya juga kirim pesan pendek bahwa telah terjadi gempa di Bantul dan memakan korban. Teletext di televisi juga mengabarkan bahwa gempa dengan besar 5,9 skala Richter telah terjadi dengan episentrum di dekat Bantul. Bisa dipahami jika di Semarang saja terasa cukup besar apalagi di Bantul, tentu luar biasa. Boss juga instruksi agar dicek kondisi seorang kerabat di Bantul. Beberapa saat kemudian adik adik saya yang di Jakarta dan sekitarnya juga menyampaikan kabar dan instruksi yang sama. Instruksi boss dan para juragan di Jakarta adalah instruksi yang harus segera dilaksanakan.
Saya berusaha menelpon kerabat saya itu namun ternyata selalu gagal. Saya mencoba menelpon kolega dan subordinates yang tinggal di Jogja ternyata juga gagal. Karena itu saya kirim pesan pendek kepada mereka dengan harapan pesan segera dapat diterima ketika mereka hidupkan telpon genggam mereka.
Sementara itu, para subordinates di Solo dan sekitarnya melapor bahwa kondisi prasarana dalam tanggung jawab kami aman. Namun demikian rumah seorang kolega mereka di Kecamatan Cawas Kab Klaten ambruk. Seperti biasa, saya beri arahan untuk tindakan segera (bagi mereka mungkin membosankan) dan sebagai subordinate juga saya melapor ke supervisor. Habis itu saya agak demam juga kalau kalau ada arahan darinya yang merepotkan tetapi ternyata sampai esok harinya tenang tenang saja.
Sore hari saya dapat jawaban dari kerabat saya bahwa dia dan keluarganya selamat, alhamdulillah, namun demikian rumahnya porak poranda. Karena saya tidak dapat konfirmasi lebih lanjut (masih susah berkomunikasi) saya menerjemahkan porak poranda sebagai rumahnya ambruk. Saya forward pesan pendek dari kerabat tersebut kepada para juragan di Jakarta dan mereka sependapat dengan terjemahan saya. Bantuan segera disiapkan.
Ahad siang 28/05(hari H+1) bantuan terkumpul. Setelah belanja seperlunya sore hari saya ke Bantul nunut adik saya yang berdomisili di Salaman Kab Magelang. Dalam perjalanan adik saya bercerita bahwa pada hari H dia ke Jogja dan menjumpai banyak orang ketakutan. Mereka tidur dan memarkir mobilnya di lapangan dan di pinggir pinggir jalan. Tetapi saat saya kesana keadaan seperti itu sudah tidak ada lagi. Mungkin karena hujan sedang turun maka mereka kembali masuk ke rumahnya.
Walau sebagian besar utuh, beberapa bangunan di Jogja runtuh sebagian. Pojok beteng juga runtuh. Makin ke selatan frekuensi menjumpai keruntuhan semakin tinggi. Sepanjang jalan ke Bantul dari Jalan Lingkar Selatan Jogja saya menjumpai banyak rumah yang runtuh bahkan ambruk. Perkerasan jalan patah atau mletot. Jembatan masih berdiri kokoh tetapi oprit (entrance) nya sedikit amblas.
Di sepanjang jalan juga dijumpai papan tanda menerima bantuan. Papan itu hanya diterangi dengan sinar sentir atau ban yang dibakar karena listrik PLN padam atau mungkin dipadamkan. Masih dapat dilihat penduduk yang tidur di luar rumah (rumahnya sudah atau hampir ambruk) di dalam tenda atau gubug darurat. Beberapa orang hilir mudik atau duduk bergerombol di antaranya berjaga.
Rumah kerabat ada di sebuah RT di Desa Melikan ternyata masih utuh. Menurut penduduk setempat di RT itu tidak ada rumah yang runtuh atau ambruk. Lebih lanjut mereka mengatakan bahwa kerabat kami saat itu tidak ada di rumah karena mengungsi ke Gunung Kidul. Mereka mengungsi karena takut ada gempa lagi dan juga karena listrik padam. Saya dan adik saya segera meninggalkan Bantul. Bantuan diserahkan di suatu kampung dalam perjalanan pulang. Adik saya terus pulang ke Magelang setelah mengantar saya ke Terminal Bus Giwangan. Terminal saat itu gelap dan sepi. Saya minta adik saya untuk ke Bantul lagi kalau kerabat sudah pulang dari pengungsian. Saya terus ke Solo karena esoknya mesti masuk kantor. Saya kirim pesan kepada para juragan di Jakarta MISSION ABORTED.